RIYAN ADITYA

Takut akan kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak mencoba sesuatu

 
readME

Jika Anda dapat memimpikannya, Anda dapat melakukannnya

Other things

under CONSTRUCTION

Other things

under CONSTRUCTION

Other things

under CONSTRUCTION

Other things

under CONSTRUCTION

BIMBINGAN KELOMPOK
Selasa, 27 Mei 2008
A. Pendahuluan
Diera sekarang ini bimbingan konseling sangatlah dibutuhkan di sekolah-sekolah mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Dalam program bimbingan dan konseling irtu sendiri ada berbagai layanan-layanan yang diantaranya (1) pengumpulan data mengenai diri siswa (2) pemberian informasi mengenai pendidikan, pekerjaan, dan sosial budaya siswa yang dapat membantu siswa kelak di masa depan (3) konseling, yang memberikan bantuan khusus kepada siswa yang mempunyai masalah secara individual maupun kelompok(4) penempatan dalam program pendidikan dan pekerjaan yang sesuai (5) penilaian terhadap keberhasilan program yang diikuti dengan kegiatan tindak lanjut berupa perbaikan dan pengembangan program bimbingan selanjutnya
Dalam pemberian layanan tersebut dapat digunakan melalui dua teknik yaitu teknik bimbingan individual dan teknik bimbingan kelompok. Dalam artikel ini akan lebih di fokuskan membahas tentang mengenai pengertian serta teknik-teknik bimbingan kelompok. Tujuan yaitu agar pembaca mengetahui apa yang dimaksud dengan bimbingan kelompok itu sendiri serta mengetahui teknik-teknik bimbingan kelompok.

B. Pengertian Bimbingan Kelompok
Sebelum pembahasan tentang bimbingan kelompok itu sendiri alangkah lebih baiknya kita mengetahui apa itu pengertian bimbingan secara umum. Berdasarkan kajian para ahli mengenai definisi bimbingan yang ditulis para ahli , misalnya Mortensen dan Schmuller (1964), Pietrofesa(1980), Shertzer dan Stone (1981), dapat disimpulkan bahwa bimbingan dapat diartikan “suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan seorang ahli yang telahmedapat latihan khusus untuk itu, dan dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya dan linkungannya, dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan dapat mengembangkan dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”.
Setelah kita mengetahui pegertian bimbingan kita juga memerluka pengertian kelompok. Kata kelompok rasanya sudah tidak asing lagi bagi kita dan konsep definisi kelompok itu sendiri setiap individu berbeda. Berikut ini pengertian bimbingan kelompok menurut Webster(1973), yaitu “kelompok adalah dua atau lebih benda atau orang yang membentuk pola atau suatu unit pola; suatu kesatuan orang atau benda-benda yang membentuk suatu unit terpisah, suatu himpunan, suatu persatuan, suatu kumpulan objek yang mempunyai hubungan, kesamaan, atau sifat-sifat yang sama”.Pegertian bimbingan kelompok proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu ditujukan pada situasi kelompok dimana anggota yang mengikuti suatu bantuan tersebut lebih dari dua orang dengan tujuan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.

C. Teknik-Teknik Bimbingan Kelompok

Dalam bimbingan kelompok pada dasarnya sama bimbingan yang lain pada umumnya, salah satu prinsipnya yaitu penggunaan teknik-teknik. Berikut ini terdapat 6 Teknik bimbingan kelompok diantaranya

1. Teknik Pemberian Informasi (Ekspositori Tecniques)

Teknik pemberian informasi sering juga disebut dengan metode ceramah, yaitu pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok pendengar. Sebenarnya pemberian informasi tidak hanya diberikan secara lisan, tetapi juga dilakukan secara tertulis dan dapat dilakukan dengan berbagai media, misalnya papan bimbingan, majalah sekolah, rekaman (tape recorder), selebaran, video dan film.
Dalam pelaksanaan teknik pemberian informasi mencakup tahap, yaitu tahap perencanaan, terdapat tiga langkah yang perlu diperhatikan, yaitu (a) merumuskan tujuan yang hendak dicapai dengan pemberian informasi itu; (b) menentukan bahan yang akan diberikan apakah berupa fakta, konsep ataukah generalisasi; (c) menentukan contoh-contoh yang tepat sesuai bahan yang diberikan . tahap selanjutnya yaitu tahap pelaksanaan, penyajian materi yang disampaikan disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Apabila tujuannya untuk mengajarkan fakta maka, maka tugas pemberi informasi adalah membuat bahan itu berarti sehingga mudah diingat oleh siswa atau pendengar.

2. Teknik Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok adalah percakapan yang sudah direncanakan antara tiga orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas suatu persoalan, di bawah pimpinan seorang pemimpin. Menurut Bloom (dalam Bennett,1963) diskusi kelompok merupakan usaha bersama untuk memecahkan suatu masalah, yang didasarkan pada sejumlah data, bahan-bahan, dan pengalaman-pengalaman di mana masalah ditinjau selengkap dan sedalam mungkin.

Teknik diskusi kelompok mempunyai tujuan,
menurut Dinkmeyer dan Muro (1971) tiga macam tujuan diskusi kelompok, yaitu:

a. Untuk mengembangkan pengertian terhadap diri sendiri.
b. Untuk mengembangkan kesadaran tentang diri dan orang lain.
c. Untuk mengembangkan pandangan baru mengenai hubungan manusia.

menurut Jacobsen, Eggen, Kauchak, dan Dulaney (1985) tujuan diskusi, yaitu:

a. Mengembangkan keterampilan-keterampilan kepemimpinan.
b.
Merangkum pendapat-pendapat kelompok.
c. Mencapai suatu konsensus.
d. Menjadi pendengar yang aktif.
e. Mengatasi perbedaan-perbedaan dengan tepat.
f. Mengembangkan keterampilan keterampilan memparafrase.
g. Mengembangan keterampilan belajar mandiri.
h. Mengembangkan keterampilan-keterampilan menganalisis, mensintesis, dan menilai.

Dalam pelaksanaan diskusi, ada tiga langkah, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.
Pada tahap perencanaan, fasilitator melaksanakan lima macam hal, yaitu :
a. Merumuskan tujuan diskusi.
b. Menentukan jenis diskusi, apakah diskusi kelas, diskusi kelompok-kelompok kecil atau diskusi panel.
c. Melihat pengalaman dan perkembangan siswa, apakah memerlukan pengarahan-pengarahan yang jelas, tugas yang sederhana, dan waktu diskusi yang lebih pendek, atau sebaliknya.
d. Memperhitungkan waktu yang tersedia untuk kegiatan diskusi.
e. Mengemukakan hasil yang diharapkan dari diskusi, misalnya rangkuman, kesimpulan atau pemecahan masalah.

Pada tahap pelaksanaan, fasilitator memberikan tyugas yang harus didiskusikan, waktu yang tersedia untuk mendiskusikan tugas itu, dan memberitahu cara melaporkan tugas, serta menunjuk pengamat diskusi jika diperlukan.
Pada tahap penilaian fasilitator meminta pengamat melaporkan hasil pengamatannya, memberikan komentar mengenai proses diskusi, dan membicarakan kepada kelompok.

3. Teknik Pemecahan Masalah (Problem Solving Techniques)

Teknik pemecahan masalah (problem solving techniques) yaitu suatu proses yang kreatif dimana individu-individu menilai perubahan-perubahan yang ada pada dirinya dan lingkungannya dan membuat pilihan-pilihan baru, keputusan-keputusan, atau penyesuaian yang selaras dengan tujuan-tujuan dan menilai hidupnya.
Langkah-langkah pemecahan masalah.
a. Identifikasi dan rumusan masalah
.
Dalam poin ini, masalah sebaiknya dirumuskan secara jelas karena kelompok yang mempunyai masalah, lokasinya, waktu, dan perubahan yang diinginkan dengan jelas sehingga mempermudah pemecahannya. Apabila masalah merupakan masalah kelompok, rumusan masalah dapat dilakukan bersama-sama.
b. Menentukan sebab-sebab masalah
.

Setelah merumuskan masalah dengan jelas langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi sebab-sebab masalah. Untuk menentukan luasnya masalah, harus mengumpulkan data yang berhubungan dengan masalah tersebut. Data yang terkumpul kemudian dipilah-pilahkan, mana yang menjadi pendorong pemecahan masalah dan menghambat pemecahan masalah. Data yang yang mendorong pemecahan masalah diidentifikasi mana yang membantu, demikian juga hal-hal yang menghambat diidentifikasi mana yang paling menghambat pemecahan masalah.

c. Mencari alternatif pemecahan masalah

Setelah sumber masalah dan sebab masalah sudah ditemukan, data yang dapat mendorong mendorong pemecahan masalah sudah terkumpul, langkah selanjutnya adalah menentukan beberapa alternative pemecahan masalah. Masing-masing anggota diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Dari pendapat yang bermacam-macam itu dibuat dua atau tiga alternatif pemecahan masalah.

d. Menguji masing-masing alternative

Ada beberapa tahap memilih alternatif masalah, tahap pertama mengambil alternatif-alternatif yang tepat adalah mengambil keputusan mana dari alternatif-alternatif tersebut yang dipilih kelompok. Pemilihan alternatif itu dibuat dengan cara menguji keuntungan dan kelemahan-kelemahan masing-masing alternatif. Setelah alternatif dipandang tepat, yaitu alternatif yang dipandang sedikit mempunyai kelemahan dipilih, pilihan tersebut kemudian dilaksanakan. Tahap kedua yaitu penilaian setelah cara itu dilaksanakan, diadakan penilaian terhadap hasilnya. Penilaian itu dilakuakn dengan melihat apakah ada kesenjangan antara masalah yang dirumuskan dengan pelaksanaan pemecahan masalahnya atau tidak. Apabila masih ada kesenjangan, maka msalahnya ditinjau ulang dengan langkah-langkah yang sama.

4. Teknik Permainan Peranan (Roleplaying)

Menurut Bennett (1963) permainan peranan yaitu suatu alat belajar yang mengembangkan keterampilan-keterampilan dan pengertian-pengertian mengenai hubungan antar manusia dengan jalan memerankan situasi yang parallel dengan yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya.
Macam-macam permainan peranan yaitu;

a. Sosiodrama

Sosiodrama adalah permainan peranan yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam hubungan antar sosial. Konflik-konflik sosial yang disosiodramakan adalah konflik yang tidak mendalam yang tidak menyangkut gangguan kepribadian. Langkah-langkah pelaksanaan sosiodrama yaitu:

  • Persiapan. Fasilitator mengemukakan masalah dan tema yang akan disosiodramakan, dan tujuan permainan. Kemudian diadakan Tanya jawab untuk memperjelas masalah dan peranan yang akan dimainkan.
  • Membuat skenario sosiodrama.
  • Menentukan kelompok yang akan memainkan sesuai dengan kebutuhan skenarionya, dan memilih individu yangn akan memegang peran tertentu. Pemilihan pemegang peran dapat dilakukan secara sukarela.
  • Menentukan kelompok penonton dan menjelaskan tugasnya. Kelompok penonton adalah anggota kelompok lain yang tidak ikut menjadi pemain. Tugas kelompok penonton yaitu untuk mengobservasi pelaksanaan permainan dan hasilnya didiskusikan.
  • Pelaksanaan sosiodrama. Pemain yang sudah menyiapkan diri diberi kesempatan untuk berdiskusi beberapa menit untuk menyiapkan pemegang perannya. Setelah selesai bru pemain memainkan perananannya sesuai dengan imajinasinya.
  • Evalausi dan diskusi. Setelah permainan selesai diadakan diskusi mengenai permainan berdasarkan diskusi dan tanggapan penonton. Diskusi daiarahkan untuk membicara mengenai tanggapan mengenai para pemain membawakan perannya sesuai dengan cirri masing-masing peran, cara pemecahan masalah, dan kesan-kesan pemain dalam memainkan perannya.
  • Ulangan permainan. Dari hasil diskusi dapat ditentukan apakah perlu diadakan ulangan permainan atau tidak.
b. Psikodrama

Menerut Corey (1985) psikodrama merupakan permainan peranan yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya.
Komponen utama psikodrama:

  • Panggung permainan
  • Pemimpin psikodrama
  • Pemegang peran utama(protagonist)
  • Peran pembantu.
Langkah-langkah pelaksanaan psikodrama:
  • Tahap persiapan. Tahap persiapan dilakukan untuk memotivasi anggota kelompok agar mereka siap beerpartisipasi secara aktif dalam permainan, menentukan tujuan permainan, menciptakan perasaan aman dan salaingf percaya pada kelompok.
  • Tahap diskusi. Dalam pelaksanaan tediri dari kegiatan dimana pemain utama dan pemain pembantu memperagakan permainannya. Dengan bantuan pemimpin kelompok dan anggota kelompok lain pemeran utama memperagakan masalahnya.
  • Tahap diskusi. Dalam tahap diskusi atau tahap bertukar pendapat dan kesan, para anggota kelompok diminta untuk memberikan tanggpan dan sumbangan pikiran terhadap permainan yang dilakukan oleh pemeran utama.
5. Permainan simulasi (simulation games)
Menurut Adams(1973) permainan simulasi yaitu permainan yang dimaksudkan untuk merefleksi situasi-situasi yang terdapat dalam kehidupan sebenarnya. Tetapi situasi itu hamper selalu dimodifikasi, apakah dibuat lebih sederhana, atau diambil sebagian, atau dikeluarkan dari konteksnya
Cara membuat permainan simulasi
  • Meneliti masalah yang banyak dialami anak, terutama menyangkut bidang pendidkan dan social.Merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam permainan itu
  • Membuat daftar atau sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membantu penyelesaian topik yang akan dikerjakan.
  • Memilih situasi dalam kehidupan sebenarnyan yang ada kaitannya dengan kehidupan siswa.
  • Membuat model atau scenario dari situasi-situasi yang sudah dipilih.
  • Identifikasi apa saja dan berapa orang yang akan terlibat dalam permainan tersebut. Pemegang peran apa saja sangat diperlukan dan apa peran masing-masing.
  • Membuat alat permainan simulasi, misalnya beberan simulasi, kartu pesan, kartu yang berisi kegiatan yang harus dilakukan untuk mengisi kegiatan selingan, dsb.
Cara melaksanakan permainan simulasi, sebelum pelaksanan permainan simulasi dilaksanakan konselor menentukan peserta simulasi yang tergolong sbb:

  • Fasilitator, yaitu individu yang bertugas memimpin permainan simulasi. Tugas fasilitator yaitu menjelaskan tujuan permainan, mendorong pemain dan penonton untuk aktiof ikut berdiskusi, membantui memecahkan masalah yang timbul selama permainan, menjawab pertanyaan yang tidak bias dijawab oleh peserta lain, mengarahkan diskusi, dan memberikan tugas penulis untuk mencata hasil diskusi dan melaporkan hasilnya.
  • Penulis, bertugas mencatat segala sesuatu yang terjadi selama permainan berlangsung.
  • Pemain yaitu individu-individu yang memegang peran tanda bermain dan menjawad dan mendiskusikan pesan-pesan permainan simulasi.
  • Pemegang peran yaitu individu yang berperan sebagai orang-orang atau tokoh-tokoh yang ada pada skenarion permainan.
  • Penonton yaitu mereka yang menyaksikan permainan simulasi dan berhak mengemukakan pemndapat, menjawab pertanyaan dan diskusi.
Setelah permainan penentuan pemain maka dilaksanakan permaina dengan langkah-langkah sbb:

  • Menyediakan alat permainan beserta kelengkapannya.
  • Fasilitator menjelaskan tujuan permainan dan yang menjadi fasilitaor yaitu suru, konselor dan wali kelas.
  • Menentukan pemain, pemegang peran dan penulis.
  • Menjelaskan aturan permainan
  • Bermain dan berdiskusi.
  • Menyimpulkan hasil diskusi setelah seluruh permainannya selesai dan mengemukakan masalah-masalah yang belum sempat diselesaiakan pada saat itu.
  • Menutup permainan serta menentukan waktu dan tempat bermain berikutnya.
------Demikian sebuah jabaran singkat mengenai bimbingan kelompok semoga bemannfaat-------
posted by RIYAN ADITYA @ 03.07  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
RIYAN ADITYA

Kepemimpinan adalah Anda sendiri dan apa yang Anda lakukan

CATATANku
Archives
Links
Powered by

BLOGGER

© 2008 RIYAN ADITYA